Selasa 27 Apr 2021 17:12 WIB

Literasi Kebencanaan Sebagai Dasar Mitigasi Bencana

92 persen bencana adalah hidrometeorologi yang disebabkan oleh faktor antropogenik.

Bencana alam (ilustrasi)
Foto: Dok Republika.co.id
Bencana alam (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Heka Hertanto, Ketua Artha Graha Peduli

Dikuartal pertama tahun 2021 menjadi periode yang penuh keprihatinan, berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam kurun waktu 1 Januari 2021 sampai 17 April 2021 telah terjadi 1.134 kejadian bencana yang telah menelan korban sebesar 476 orang meninggal dunia, 12.892 Orang luka-luka. Salah satu bencana yang cukup menonjol adalah adanya bencana angin siklon tropis Seroja yang melanda provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Ahad (4/4/2021) dan gempa bumi dengan kekuatan besar (6,7 SR) yang mengguncang Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Sabtu (10/4/2021).

BNPB mencatat hampir seluruh wilayah NTT sebanyak 21 Kota dan Kabupaten terdampak oleh siklon Seroja ini, dengan jumlah korban 181 orang meninggal dunia, 241 orang luka-luka dan 14.290 orang mengungsi. Siklon ini juga mengakibatkan 20.032 rumah mengalami rusak berat.

Gempa bumi di Malang, Jawa Timur berakibat 10 orang meninggal dunia, 144 orang luka-luka dengan 1.929 rumah rusak berat dan 2.731 rumah mengalami rusak sedang. Banyaknya kerugian akibat bencana tentunya akan mewarisi nestapa bagi seluruh rakyat Indonesia.

Banyaknya bencana alam seperti yang kita alami selama empat bulan ini sepertinya rutin terjadi di bumi Ibu Pertiwi. Data juga menunjukkan 92 persen bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh faktor perubahan kondisi alam dan antropogenik.

Rusaknya kondisi alam berdampak pada perubahan iklim global di mana frekuensi hujan ekstrim makin meningkat dan kerentanan lingkungan. Pengaruh antropogenik meliputi tingginya degradasi lingkungan, permukiman di daerah rawan bencana, DAS kritis, urbanisasi, dan lainnya.

Belum lagi posisi Indonesia yang berada di garis ekuator yang menyebabkan sangat rentan terhadap terjadinya bencana hidrometeorologi, kita punya el nino yaitu musim kering dan la nina musim basah. Faktor-faktor tersebut merupakan penyebab banyak bencana seperti banjir dan tanah longsor karena adanya hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama berjam-jam.

Banyaknya bencana yang terjadi tentunya memunculkan banyak pertanyaan seperti apakah bencana tersebut dapat diprediksi, sehingga dampak korban dan kerugian yang dialami oleh bencana tersebut dapat dihindari atau dikurangi. Sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut adalah kita harus bisa melihat penyebab dari bencana tersebut.

Bencana alam hidrologi seperti banjir semestinya dapat diprediksi akan melanda sebuah wilayah, karena adanya perkembangan teknologi radar cuaca sehingga BMKG dapat dengan rutin dan berkala memberikan prediksi kondisi cuaca di suatu daerah.

Bencana hidrologi pun dapat dikurangi dampak buruknya dengan cara melakukan pelestarian alam yang ada dilingkungan kita. Kegiatan penghijauan berupa penanaman pohon, pengelolaan sampah, membuat sumur resapan air dan sebagainya, tentunya bisa menjadi aktifitas penting dalam melakukan mitigasi terhadap bencana ini. Bencana tidak datang tiba-tiba karena alam mengirim pesan kepada seluruh makhluk untuk waspada terutama apabila lingkungan sekitar kita mulai rusak.

Gempa bumi merupakan bencana tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, tetapi kita dapat melakukan mitigasi terhadap dampaknya dengan memperkuat struktur bangunan sehingga tidak rubuh atau cukup fleksibel menghadapi guncangan. Penguatan struktur bangunan tentunya didasarkan pada kondisi Indonesia yang terletak di 2 lempeng utama yaitu lempeng Asia dan lempeng Australia sehingga bisa berdasarkan peta kondisi geologis dan catatan terjadinya bencana di suatu lokasi.

Setiap bencana yang terjadi tentunya bisa menjadi data bagi kita untuk melakukan mengurangi dampak dari sebuah bencana. Indonesia memiliki catatan kejadian bencana alam yang banyak sekali yang seharusnya dapat menjadi bahan literasi kebencanaan yang sangat berguna untuk melakukan mitigasi dampak bencana.

Literasi kebencanaan erat kaitannya dengan penyampaian informasi kepada masyarakat agar mengerti bagaimana memitigasi bencana, membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan, kemudian tanggap terhadap pemulihan dalam berbagai aspeknya apabila bencana benar-benar terjadi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement